Skip to main content

BATIK TRUNTUM



INDONESIA sangat dekat kaitannya dengan batik. Batik Indonesia saat ini sudah sangat terkenal di kalangan manca negara. Bisa dikatakan, di setiap wilayah di negara ini pasti menyimpan kain batik khas yang mungkin tidak akan ditemukan di wilayah lainnya. Itu juga yang akhirnya membuat Indonesia menjadi sangat kaya.

Motif batik yang tertuang di kain ternyata tidak sekadar goresan tangan. Hampir semua batik Indonesia memiliki sejarah di balik pembuatannya. Mulai dari motif yang tergambar, kain yang dipilih, atau siapa yang mengenakannya dan berhak mengenakannya.


Bicara mengenai motif batik, apakah Anda pernah mendengar motif batik bernama “Truntum”?

Usut punya usut, motif batik itu memiliki makna yang cukup dalam mengenai arti cinta dan kesetiaan. Motif batik itu pun disimbolkan sebagai lambang cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama sekamin terasa subur berkembang.

Bagi Anda yang belum tahu, itu kenapa orangtua pengantin mengenakan kain batik bermotif truntum di hari sakral tersebut. Sebab, masih banyak yang beranggapan, symbol cinta yang dipancarkan motif batik truntum bisa menyebar ke semua orang terutama kepada kedua mempelai.

Lebih lanjut, motif truntum sendiri diciptakan Kanjeng Ratu Kencana yang mana dia merupakan Permaisuri Sunan Paku Buwana III. Cerita di balik motif ini pun tidak kalah hebat dari maknanya. Dikutip dari beberapa referensi, kemunculan motif batik ini bermula sekitar 1749-1788 Masehi.

Kala itu, seorang permaisuri bernama Ratu Kencono atau Ratu Beruk merasa diabaikan oleh suaminya karena kesibukan dan karena sang suami lebih memerhatikan selir barunya. Mengetahui fakta tersebut, Ratu Kencono pun suatu malam sembahyang. Sesaat sebelum sembahyang, Ratu melihat langit malam itu bertabur bintang dan langitnya sangat cerah. Tak hanya itu, kerlip bintangnya sangat menyejukkan hati. Keindahan tersebut menemani kesepiannya malam itu.

Sembahyang dilakukan. Di saat yang bersamaan, Ratu mencium harum bunga tanjung berjatuhan di kebun persinggahannya. Dalam kekhusyuan dirinya sembahyang, dia kemudian berpikir untuk mencipta sebuah motif batik.

Selang beberapa lama kemudian, sang raja menemukan permaisurinya tengah membatik sebuah kain yang sangat indah. Hari demi hari, sang raja terus saja terfokus pada apa yang sedang dilakukan ratu. Sampai akhirnya kain tersebut sudah dipenuhi motif batik yang sangat cantik dan tidak tahu bagaimana sang raja pun hatinya kembali luluh pada sang ratu. Cinta sang raja kepada Ratu Kencono kembali bersemi.

Perjuangan Ratu Kencono dalam menciptakan motif ini pun tidak lah mudah. Setiap hari dia harus melukis kain indah tersebut dan dengan perasaan penuh bahagia, dia pun menuangkan kasih sayangnya pada kain tersebut dalam bentuk motif. Batik itu juga yang kemudian membuat sang raja bisa kembali jatuh ke pelukan Ratu Kencono, dan begitulah filosofi motif Truntum.

Sementara itu, jika bicara mengenai etimologi nama motif tersebut, truntum berasal dari istilah teruntum-tuntum (Bahasa Jawa, Red) yang artinya tumbuh lagi. Hal ini sejalan dengan perjuangan Ratu Kencono yang tidak henti-hentinya berjuang akan cintanya pada sang raja dan berharap cinta tersebut disambut dengan kasih sayang yang sama.

Mengenai batik Truntum sendiri, batik ini memiliki pola yang halus dan sederhana. Jika diperhatikan secara detail, batik ini seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil atau menyerupai kuntum bunga melati. Beberapa pihak menilainya mirip dengan taburan bintang di langit yang cerah seperti motif Truntum  yang ada di sakyabatiktenun.blogspot.com

Perlu Anda ketahui, karena nilai sejarah dan ajaran moral yang cukup kuat, motif truntum dinobatkan sebagai salah satu jenis pola batik yang paling terkenal di Solo. Motif tersebut akhirnya sampai sekarang popular di banyak wilayah lainnya di Indonesia. Sesuatu yang membanggakan dan cukup bermakna, ya. 




Comments

Popular posts from this blog

4 Motif Batik "Sido" Sidomulyo, Sidomukti, Sidoluhur dan Sidoasih

Pada dasarnya motif batik Sidolmulyo, Sidomukti, Sidoluhur dan Sidomukti ini memiliki kesamaan desain, namun dibedakan oleh dasar batiknya, sehingga menjadikan namanya juga berbeda. Menurut catatan di keraton Surakarta, batik Sidomulyo dan batik Sidoluhur sudah ada sejak jaman Mataram Kertosuro abad XVII. Motif yang bercorak bentuk lapis dengan latar putih dinamakan batik Sidomulyo sedangkan yang berlatar hitam dinamakan batik Sidoluhur. 1. Sidomulyo Gambar Motif Batik Sidomulyo Batik motif Sidomulyo berasal dari zaman Mataram Kartasura yang dasarnya (latar) digantikan dengan isen-isen ukel oleh Sultan Pakubuwono IV. Batik motif Sidomulyo merupakan jenis batik Keraton. Motif batik ini berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Motif ini termasuk motif lama khas Surakarta, halus, rumit serta membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam pembuatannya. Sido dalam bahasa Jawa berarti jadi atau terus menerus, sedangkan mulyo berarti mulia. Kain batik dengan motif sidomul...

Cara Membuat Pewarna Alam Batik dari Daun Indigofera

Daun Indigofera dapat digunakan sebagai bahan pewarna dalam membuat batik tulis, selain ramah lingkungan pewarna batik dari bahan alam akan menghasilkan warna yang lebih natural dan unik. Daun indigofera banyak dijumpai di beberapa daerah tropis di indonesia dan termasuk sumber alam terbarukan. Tanaman Indigofera Dahulu kala menurut Sejarah Batik di Indonesia, pewarnaan Batik tidak dilakukan menggunakan bahan pewarna kimia/sintetis seperti beberapa proses pewarnaan sintetis yang dilakukan oleh pabrikan kain/tekstik saat ini. Pembatik jaman dahulu memanfaatkan Tumbuh-tumbuhan untuk diambil zat warnanya, sehingga sifat kain batik yang tercipta adalah ramah terhadap lingkungan maupun pada kulit manusia. Tumbuh-tumbuhan yang digunakan juga bervariasi, ada jenis-jenis tumbuhan yang diambil batangnya, kulitnya, buahnya, hingga pada daunnya. Indigofera adalah salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk mewarnai batik dengan zat warna alam. Kandungan z...

5 Motif Batik Yogyakarta dan Filosofinya

Yogyakarta memiliki banyak motif-motif batik. Setiap motif batik memiliki kegunaan dan filosofinya masing-masing. Berikut ini adalah 5 motif batik Yogyakarta dan filosofinya: 1. Kawung Picis Motif Kawung Picis Kegunaan :  Dikenakan di kalangan kerajaan Filosofi   : Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya,  juga melambangkan empat penjuru (pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali  ke arah perbuatan baik), serta melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu-nafsu yang ada pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia. 2. Slobog Motif Slobog Kegunaan  : Dipakai pada upacara kematian dan dipakai pada upacara pelantikan para pejabat                      pemerintah. Filosofi   :  Melambangkan harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan  dan kelancaran dalam perja...